Sebagai seorang muslim dan beriman kepada Alloh SWT dan hari akhir termasuk di dalamnya balasan syurga dan neraka. Sikap cinta, harap dan takut kepada Alloh adalah keharusan bagi seorang mukmin dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Harapan-lah yang membuat seorang mukmin optimis dalam hidupnya, berharap Allah akan mengampuni segala dosa-dosanya, berharap diterima semua amal kebaikannya, berharap senantiasa ditunjukkan jalan-Nya yang lurus dan harapan-harapan lainnya terkait urusan di dunia seperti dapat memiliki keturunan yang shaleh/ah, mendapatkan rezeki yang halal lagi berkah, kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah, warahmah dan seterusnya. Alloh pencipta langit dan bumi sangat mencintai hamba yang berharap kepada-Nya, menadahkan tangan sambil berdoa khusyu' untuk kebaikannya di dunia dan akhirat. Allah Maha Pengampun, Pengasih dan Penyayang akan senantiasa memberikan yang terbaik untuk hamba-Nya yang beriman.
Selain rasa pengharapan (roja') seorang mukmin juga harus memiliki perasaan takut (khauf) kepada Alloh seperti banyak ayat yang mengingatakan tentang siksa dan azab Alloh di akhirat kelak, perasaan takut inilah yang menghalangi seseorang melakukan maksiat atau hal-hal yang diharamkan Alloh dan mengikuti hawa nafsunya. Tidak bisa dibayangkan jika di dunia ini tidak ada aturan, semua orang boleh melakukan apa saja sekehendaknya tanpa batasan karena menganggap bahwa Allah yang Maha Penyayang akan mengampuni segala kesalahannya begitu saja tanpa ada konsekuensi yang didapat. Cinta dan sayang seorang ibu saja tetap menginginkan sang anak memiliki aturan dan disiplin dalam hidupnya, tidak mau anaknya mencuri, merusak barang milik orang lain, menyakiti orang lain dan sebagainya. Dari aturan itu jika terus menerus dilanggar setelah diingatkan biasanya akan ada konsekuensinya demi menerapkan disiplin dan kebaikan sang anak. Dan ketika sang anak berbuat baik dan santun, sang ibu akan mengucapkan terima kasih dan memberikan senyum bahagia sebagai praise/reward kepada sang anak. Semua aturan yang diterapkan dalam mendidik sang anak bukan untuk sang ibu tapi untuk kebaikan sang anak. Mungkin seperti itulah Alloh yang Maha Penyayang menginginkan kebaikan bagi hamba-Nya dan kesejahteraan bumi yang diciptakan-Nya dengan mengingatkan larangan atau aturan-Nya di Al Quran. Pahala atau reward bukanlah tujuan tapi akibat dari kebaikan-kebaikan yang kita lakukan.
"Dan Barang siapa berjihad (bersungguh-sungguh), maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (QS Al Ankabut ayat 6)
"Dan Barang siapa berjihad (bersungguh-sungguh), maka sesungguhnya jihadnya itu untuk dirinya sendiri. Sungguh Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam." (QS Al Ankabut ayat 6)
Harapan yang tidak disertai takut kepada balasan Alloh, seperti berharap masuk syurga namun tetap asyik melakukan kemaksiatan, hanyalah angan-angan belaka karena merasa aman dengan perbuatannya. Naudzubillah min dzalik semoga Alloh menjauhkan kita dari sifat seperti itu. Dalam Hadis Riwayat Bukhori no 2356 Rasulullah berkata:
“Aku adalah orang yang paling mengetahui/kenal dengan Allah dan akulah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian (ummat beliau)”.
“Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya bagai ia sedang duduk di bawah gunung yang akan runtuh, ia khawatir tertimpa. Sedangkan orang fajir (ahli maksiat), melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya” (HR. Bukhari 6308)
Dan di Surat Al Isra ayat 57 Alloh menjelaskan "Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al Isra ayat 57).
“Aku adalah orang yang paling mengetahui/kenal dengan Allah dan akulah orang yang paling takut kepada Allah diantara kalian (ummat beliau)”.
“Seorang yang beriman melihat dosa-dosanya bagai ia sedang duduk di bawah gunung yang akan runtuh, ia khawatir tertimpa. Sedangkan orang fajir (ahli maksiat), melihat dosa-dosanya bagaikan lalat yang melewati hidungnya” (HR. Bukhari 6308)
Dan di Surat Al Isra ayat 57 Alloh menjelaskan "Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Tuhan mereka, siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Tuhanmu adalah suatu yang (harus) ditakuti." (Al Isra ayat 57).
Maka dari itu perasaan harap dan takut penting ada di diri seorang muslim, dengan memiliki keseimbangan antara perasaan takut dan harap diharapkan seorang muslim bisa mencapai tingkat kualitas hidup yang sebaik-baiknya. Bersifat hati-hati, takut perbuatannya akan membawa murka Alloh dan bersifat optimis karena harapan kepada Allah yg luas akan cinta, kasih sayang-Nya dan ampunan-Nya. Semoga Alloh senantiasa menunjukkan kita jalan yang lurus, jalan yang Alloh ridhoi untuk keselamatan di dunia dan akhirat.
Wallahualam bi showab

No comments:
Post a Comment